Pengendalian Hama Tikus Yang Efektif

PREFERENSI TIKUS SAWAH (Rattus argentiventer)
TERHADAP JENIS DAN BENTUK UMPAN PADA TANAMAN PADI

The Prefer Field Mouse (Rattus argentiventer) Towards Kind and Bait Form in Rice Plants

IRVANDRA FATMAL, SP.
Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

ABSTRACT

This research is to detect choosen kind and bait form that used as trap towards field mouse that assault rice. this watchfulness is carried out in location prima farmer at village rice field tune Aneuk Glee district indrapuri, Aceh Besar. plan that used in this watchfulness group random plan (rack) non factorial with 6 treatments, every treatment at repeat as much as 4 times so that got 24 effort units. that ingredient rice/shell of rice, rice intact, broken rice, corn intact, broken corn and corn flour. peubah that watched: plants damage percentage, mouse total snare and male mouse ratio and female mouse. Research result shows that chosen mouse towards form and bait kind gives influence very real between treatment, furthermore done test difference smallest real to BNT continues. Between treatment rice/shell of rice is bait most liked by mouse. in variable rice plants damage percentage, moment rice ready at harvest obvious more opting mouse consumes rice than bait that given. this matter causess plants damage percentage more increase. furthermore in variable mouse total snare is begun in observation to 2 until observation to 9 that show real difference, except to observation to 1. while snare dominant mouse mouse berkelamin male, this matter proves that male mouse besides looks for also look for pair. while female mouse more many resides in hole with activity gives suck and occasionally out look for food.
Keywords: Prefer, mouse rice field, bait, path analysis

PENDAHULUAN

Tanaman padi (Oryza sativa L.) termasuk family Graminae penghasil biji-bijian yang berasal dari negeri China. Dalam budidaya tanaman padi banyak terjadi serangan hama tikus (Rattus argentiventer Rob & Kloss), sebab tikus merupakan hama yang relatif sulit dikendalikan karena memiliki kemampuan adaptasi, mobilitas, dan kemampuan berkembangbiak yang pesat serta daya rusak yang tinggi, hal ini menyebabkan hama tikus selalu menjadi ancaman pada pertanaman padi. Kehilangan hasil produksi akibat serangan tikus cukup besar, karena menyerang tanaman sejak di persemaian hingga menjelang panen. Potensi perkembangbiakan tikus sangat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas makanan yang tersedia. Tikus bersifat omnivora atau pemakan segala jenis makanan, akan tetapi dalam hidupnya tikus membutuhkan makanan yang kaya akan karbohidrat dan protein seperti bulir padi, kacang tanah, jagung, umbi-umbian, dan biji-bijian. Apabila tidak tersedia makanan di sawah, tikus baru menyerang pertanaman lainnya seperti tanaman jagung, palawija dan ubi kayu serta ubi jalar. Keragaman komoditi menyebabkan terciptanya lingkungan yang selalu menguntungkan bagi kehidupan dan perkembangan tikus (Priyambodo, 1995).
Mobilitas tikus tergantung kepada natalitas dan mortalitas. Jika makanan tersedia di lapangan maka satu populasi akan membentuk beberapa populasi lainnya, bila makanan berkurang maka akan terjadi mortalitas yang tinggi di lapangan. Populasi yang baru terbentuk akan kembali ke populasi yang lama dengan 2 macam pergerakan, yaitu: pergerakan harian dalam mencari makan sehari-hari dengan jarak ±100 m dan pergerakan musiman dengan jarak pergerakan mencapai ±500 m. Beberapa upaya pengendalian hama tikus yang banyak dilakukan oleh para petani adalah dengan mengatur waktu tanam, rotasi tanaman, sanitasi lingkungan, pengendalian secara fisik-mekanik, pengendalian secara biologis, dan pengendalian secara kimiawi. Dari sekian banyak metode pengendalian tersebut tampaknya pengendalian tikus dengan menggunakan umpan beracun (rodentisida sintetik) masih menjadi pilihan utama petani, karena relatif lebih praktis dan langsung memperlihatkan hasilnya. Disamping itu, dengan memakan bahan ini menyebabkan tikus menjadi mandul. Keefektifan penggunaan umpan beracun di lapangan antara lain ditentukan oleh jenis dan bentuk umpan yang digunakan. Disisi lain harga rodentisida sintetik yang relatif mahal dan berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya antara lain terbunuhnya organisme bukan sasaran seperti ikan, dan binatang peliharaan lainnya, karacunan pada manusia, dan lain-lain. Sejumlah masalah yang muncul akibat penggunaan rodentisida sintetik yang tidak bijaksana tersebut menyebabkan meningkatnya kembali perhatian sejumlah peneliti dalam memanfaatkan potensi tumbuhan seperti akar tegari (Dianella sp.) untuk mengendalikan tikus sawah (Jumar & Helda, 2003). Oleh karena itu, alternatif menggunakan perangkap merupakan pengendalian yang relatif aman terhadap hewan sekitar dan lingkungan, pengendalian hama ini dilakukan dengan mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu (PHT) dan tepat sasaran. Dalam penerapan PHT diperlukan pengetahuan aspek biologi hama sebagai dasar memilih teknik pengendalian yang tepat (Theceli, 1992).
Teknik pengendalian lainnya yaitu dengan menggunakan perangkap, salah satu jenis perangkap tikus yang dapat digunakan adalah perangkap bambu dan perangkap yang terbuat dari kawat. Penggunaannya mudah yaitu hanya dengan meletakkan perangkap yang telah diberi umpan pada setiap petakan sawah. Berkaitan dengan hal tersebut, upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus harus dilakukan terus menerus mulai dari saat pra tanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik pengendalian secara terpadu. Di daerah persawahan kepadatan populasi tikus berkaitan erat dengan fase pertumbuhan tanaman padi. Pada fase vegetatif populasi tikus umumnya masih relatif rendah, seterusnya akan meningkat saat tanaman padi berada pada fase generatif. Tikus dapat menyerang padi pada fase vegetatif dengan menggigit dasar anakan rumpun sampai hancur. Biasanya dimulai dari bagian tengah petakan kemudian dilanjutkan ke pinggir pematang sawah.

Biologi Hama Tikus Sawah (R.argentiventer)
Tikus sawah banyak dijumpai diseluruh tempat dan paling banyak merusak tanaman pangan khususnya padi. Tubuh tikus berwarna kelabu gelap, bagian punggung berwarna coklat muda berbercak hitam, perut dan dada berwarna keputihan. Panjang antara kepala hingga badan 130 – 210 mm, panjang badannya dari hidung sampai ujung ekor 270 – 370 mm, panjang ekor sama atau lebih pendek dari panjang badan, dengan berat rata-rata sekitar 500 gr (Gambar 1). Tikus memiliki indera penciuman dan pendengaran yang tajam, tikus betina mempunyai 6 pasang puting susu yang terletak dikiri dan kanan pada bahagian dada dan perut memanjang sepanjang badan. Tikus sawah dapat berkembang biak pada umur 1,5 – 5 bulan setelah kawin. Seekor tikus betina dapat melahirkan 8 ekor anak setiap melahirkan (Arifin, 1995).
Klasifikasi tikus sawah oleh Marshal:
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Klass : Mammalia
Subklas : Theria
Ordo : Rodentia
Sub ordo : Myomorpha
Famili : Muridae
Sub Famili : Murinae
Genus : Rattus
Spesies : Argentiventer
Nama latin :Rattus argentiventer Kloss
Ciri-ciri yang menarik adalah gigi serinya mampu beradaptasi untuk mengerat, kebiasaan ini erat kaitannya dengan pertumbuhan dua pasang giginya. Dua pasang gigi tersebut terus tumbuh hingga mencapai 12-15 cm per tahun, untuk menghambat pertumbuhan giginya tikus terus mengerat apa saja yang ditemukannya, menggigit benda-benda yang keras. Gigi seri ini terdapat pada rahang atas dan bawah, masing-masing sepasang, gigi seri ini secara cepat akan tumbuh memanjang sehingga merupakan alat potong yang sangat efektif, tidak mempunyai taring dan graham (premolar).
Dengan kemampuannya itu kita mustahil menumpasnya sampai tuntas, yang dapat dilakukan ialah mengendalikan jumlahnya sampai tingkat populasi tertentu yang tidak mengganggu. Hama tikus terdiri dari beberapa jenis di antaranya: Rattus argentiventer, Rattus-rattus brevecaudatus, Rattus-rattus diardi, Rattus exultant, Rattus norvegikus, tikus Riol dan tikus Wirok, dua jenis dari tikus ini merusak pertanaman padi dipersawahan dan jenis lainnya merusak hasil pertanian dipergudangan. Selama satu tahun satu ekor tikus betina dapat melahirkan sampai 4 kali.
Sudarmaji (2007), juga menyebutkan bahwa seekor tikus betina dapat bunting sebanyak 6 – 8 kali dan perkehamilan bisa melahirkan sekitar 10 ekor sehingga satu ekor tikus betina berpotensi berkembang biak hingga 80 ekor per satu musim tanam. Pada persemaian sampai tanaman fase vegetatif, populasi tikus umumnya masih rendah dan kepadatan populasi meningkat pada fase generatif. Pada saat tanaman fase generatif, kebutuhan gizi tikus jantan belum terpenuhi, untuk membuahi tikus betina. Perkembangbiakannya mulai terjadi saat primordial dan terus berlangsung sampai fase generatif. Tikus jantan siap kawin pada umur 60 hari, sedangkan tikus betina siap kawin pada umur 28 hari. Masa bunting berlangsung selama 19-21 hari. Penyebab hama tikus terus menyerang sawah para petani, antara lain: monitoring lemah, pengendalian yang dilakukan petani berjalan sendiri-sendiri (tidak berkelompok), terlambatnya melakukan pengendalian dan tidak berkelanjutan. Beberapa spesies tikus mampu menimbun 5-8 kg persediaan makanan di dalam lubangnya. Tikus sawah dapat berenang selama 3 hari, tikus mampu berjalan pada permukaan vertikal, berjalan di kabel dan dapat dengan mudah melompat dengan ketinggian hingga 30 cm dari suatu permukaan yang datar dan melompat horisontal sejauh 122 cm, tikus dapat memanjat batubata, dinding dan berjalan diatas kawat, tikus tidak akan mengalami cedera meskipun jatuh dari ketinggian 10 meter. (Martin et al. 1990).
Menurut Rochman (1992), bahwa makanan yang baik untuk pertumbuhan tikus sawah adalah makanan yang mengandung karbohidrat. Adakalanya tikus juga akan memakan jenis-jenis serangga, daging, siput, bangkai ikan dan hewan lainnya. Makanan jenis hewan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan protein dan hampir seluruh waktu yang digunakan untuk makan yaitu pada malam hari. Tingkah laku tikus bergerak aktif sambil menggerogoti makanannya sepanjang malam sampai kenyang, tikus membutuhkan makanan setiap hari kira-kira 10-20 % dari berat tubuh, yang berasal dari jenis biji-bijian seperti padi, jagung, umbi-umbian, pisang, kacang tanah, kedelai, kacang ijo dan tepung ikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterpilihan jenis dan bentuk umpan yang digunakan sebagai perangkap terhadap tikus sawah yang menyerang padi.

Gambar 1. Tikus sawah (Rattus argentiventer) pada padi sawah

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada lokasi Prima Tani di lahan sawah Desa Aneuk Glee Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar, pelaksanaan penelitian di mulai sejak bulan Februari – Maret 2008. Dalam penelitian ini menggunakan beberapa jenis umpan yaitu padi/Gabah, beras utuh, beras pecah, jagung utuh, jagung pecah dan tepung jagung dan tali nilon, papan sebagai pamplet perlakuan serta lahan sawah petani sebagai tempat penelitian. Alat-alat yang digunakan adalah: Perangkap tikus, cangkul, gunting, alat ukur (meteran) dan alat tulis menulis.
Percobaan disusun dengan rancangan acak kelompok (RAK) non faktorial dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan, dengan demikian terdapat 24 unit percobaan, untuk menganalisis data digunakan sidik ragam dan uji lanjut dengan Uji Beda Nyata Terkecil pada taraf α 0,05 (Gomez & Gomez, 1995). Model Matematis yang digunakan dalam rancangan ini adalah sebagai berikut :

Yij = Efek hasil penelitian pada ulangan ke –i dan perlakan ke – j
= Efek nilai tengah
= Efek ulangan pada taraf ke – i
= Efek perlakuan pada taraf ke – j
= Efek error pada ulangan ke – i dan perlakuan ke-j

Sebelum penelitian dilakukan terlebih dahulu dilakukan persiapan lahan dengan luas lahan yang telah ditentukan yaitu 2×2 m/unit percobaan, kemudian lahan tersebut diberi pembatas dengan menggunakan kayu dan tali nilon agar dapat memudahkan dalam waktu pengamatan.
Setelah lahan siap, selanjutnya sebagai perlakuan dilakukan pemasangan perangkap dengan jenis umpan tikus yang berbeda-beda dan dengan takaran ±1 ons/ masing-masing umpan pada tiap-tiap perangkap. Pemasangan dilakukan ketika tanaman padi berumur 45 hari – panen. Karena pada umur tersebut tikus keluar dari liangnya untuk mencari makanan. Penggunaannya yaitu dengan meletakkan perangkap yang telah diberi umpan pada sudut-sudut petak perlakuan. Selanjutnya Setiap perlakuan diberi label sesuai dengan masing-masing perlakuan dan ulangan.
Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah:
Persentase kerusakan tanaman yang terserang diamati 3 hari sekali pada saat pergantian makanan. Besarnya persentase dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut:
P = x 100 %
Dimana:
P = Persentase Tanaman Rusak
a = Jumlah Tanaman Yang Diserang
b = Jumlah Tanaman/Petak
Pengamatan jumlah tikus yang terperangkap juga diamati 3 hari 1 kali pada sore hari, dengan menghitung jumlah tikus yang terdapat pada setiap unit perlakuan.
Pengamatan yang dilakukan untuk melihat rasio jantan yang terperangkap. Formula yang digunakan adalah sebagai berikut :

% Jantan = X 100%

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persentase Kerusakan Tanaman
Hasil penelitian terhadap kerusakan tanaman padi pada pengamatan pertama sampai pengamatan ke sembilan dapat dilihat pada tabel lampiran 2 – 28. Analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai jenis dan bentuk umpan berpengaruh terhadap ketertarikan tikus sawah (Rattus argentiventer). Kecuali pada pengamatan ke 1, 7 dan 9. Rata-rata Persentase kerusakan tanaman disajikan pada Tabel 2. Pada tabel 2 di bawah ini dapat dilihat hasil penelitian terhadap persentase kerusakan tanaman menunjukkan bahwa ketika padi telah siap dipanen ternyata tikus lebih tertarik memakan padi daripada umpan yang ada di dalam perangkap, hal inilah yang menyebabkan persentase kerusakan tanaman semakin meningkat. Sudarmaji (2007), menyatakan bahwa dalam waktu 10 tahun terakhir, hama tikus sawah menjadi penyebab kerusakan terbesar pada tanaman padi. Di antara 7 jenis tikus, yang menjadi hama utama pada tanaman padi adalah R. argentiventer. Tikus sawah itu dapat menimbulkan kerusakan 50 – 100%.
Sudarmaji (2007), menambahkan bahwa penanganan tikus sebaiknya dilakukan sejak dini, sebelum berkembangbiak, karena pada fase generatif pemicu perkembangan tikus adalah padi bunting. Saat padi bunting, tikus memakan dan merusak titik tumbuh atau memotong pangkal batang serta memakan bulir gabah. Pada kategori serangan berat semua rumpun padi bisa habis dikonsumsi. Hal ini disebabkan pada fase padi bunting, tanaman padi mengeluarkan aroma dan bulir padi belum mengalami proses pengerasan kulit (proses pengerasan fisik) sehingga lebih mudah untuk dikonsumsi, selain itu kandungan karbohidrat yang ada pada padi sedang mengalami fase transisi dari substansi cairan ke bentuk padat, kondisi ini yang paling disukai oleh tikus. Aktivitas harian tikus berkaitan dengan kebutuhan untuk mencari pakan dan berkembang biak. Tristianti et al. (1992) mengemukakan bahwa rata-rata rumpun padi yang terpotong oleh seekor tikus meningkat mulai dari saat primordial (7,1 rumpun tiap malam), stadia bunting (11,9 rumpun tiap malam) hingga stadia keluar malai (13,2 rumpun tiap malam). Apabila kondisi di sawah sudah tidak ada pertanaman (bera) tapi masih ada pertanaman yang terlambat panen, maka tanaman tersebut akan menjadi sasaran utama.

Jumlah Tikus Yang Terperangkap
Hasil penelitian terhadap Jumlah tikus yang terperangkap pada pengamatan pertama sampai pengamatan ke sembilan dapat dilihat pada tabel lampiran 29 – 55. Analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai jenis dan bentuk umpan berpengaruh nyata terhadap jumlah tikus yang terperangkap, kecuali pada pengamatan pertama. Rata-rata jumlah tikus yang terperangkap disajikan pada Tabel 3. Keterpilihan umpan padi/gabah lebih disukai oleh tikus dari pada umpan umpan beras utuh, beras pecah, jagung utuh, jagung pecah dan tepung jagung karena umpan padi mudah dikonsumsi, padi juga memiliki aroma dan susunan gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tikus, sebagaimana diketahui bahwa padi banyak mengandung karbohidrat sebagai sumber energi yang dibutuhkan oleh tikus, disamping itu juga padi terdapat berbagai unsur protein, mineral dan vitamin dengan nilai gizi 85-90 % dan kandungan Protein glutein dengan nilai gizi 80 %. sebagian kecil adalah pentosan, selulosa, hemiselulosa, dan gula.
Kuantitas dan kualitas makanan yang tersedia di lapangan merupakan salah satu faktor pembentuk yang berkesinambungan, tetapi apabila makanan berkurang maka akan terjadi mortalitas yang tinggi di lapangan. Populasi yang baru terbentuk akan kembali ke populasi yang lama dengan 2 macam pergerakan, yaitu: pergerakan harian dalam mencari makan sehari-hari dengan jarak ±100 m dan pergerakan musiman dengan jarak pergerakan mencapai 500 m (Sianturi, 1990).

Rasio Tikus Jantan
Hasil penelitian terhadap rasio tikus jantan pada pengamatan pertama sampai pengamatan ke sembilan dapat dilihat pada tabel lampiran 56 – 82. Analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai jenis dan bentuk umpan berpengaruh nyata terhadap jenis kelamin (rasio tikus), kecuali pada pengamatan ke sembilan. Rata-rata rasio tikus jantan disajikan pada Tabel 4. Pada tabel 4 berikut ini menunjukkan bahwa hasil penelitian terhadap rasio tikus, ternyata tikus yang terperangkap cenderung (bertendensi) lebih banyak yang berkelamin jantan. Hal ini membuktikan bahwa tikus jantan lebih aktif mencari makanan dan mencari pasangan. Sedangkan tikus betina lebih banyak berdiam dalam liang dengan aktivitas melahirkan, menyusui dan sekali-kali keluar untuk mencari makanan. Yulianto et al. (2007), menyatakan bahwa setiap hari tikus jantan mampu menimbun 5-8 kg persediaan makanan di dalam liangnya. Hal ini dilakukan untuk menghindar dari pemangsa seperti ular sawah, ular tikus, dan burung elang serta burung hantu sebagai predator. Thamrin et al. (1998) menambahkan bahwa tikus jantan mampu merusak tanaman budidaya dalam waktu yang singkat dan menimbulkan kehilangan hasil dalam jumlah yang besar. Murakami et al. (1990) menyatakan bahwa kerusakan tanaman padi di Indonesia yang disebabkan oleh tikus jantan dapat mencapai 20 % setiap tahunnya.

Tabel 2. Rata-rata persentase kerusakan tanaman (Transformasi Log x + 10)

Perla. 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf.
U1
U2
U3
U4
U5
U6 1,1004
1,0000
1,0000
1,0000
1,0638
1,0000 1,1831 b
1,3107 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,4137 b
1,1037 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,3086 b
1,1967 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,3378 b
1,0638 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,2041 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,1494
1,1494
1,0000
1,0000
1,0000
1,0000 1,2834 b
1,1831 b
1,0000 a
1,0103 b
1,0000 a
1,0000 a 1,0742
1,1037
1,0000
1,0000
1,0000
1,0000
BNT – 0,19 0,17 0,26 0,18 0,12 – 0,23 –
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05.

Tabel 3. Rata-rata jumlah tikus yang terperangkap (Transformasi )

Perla. 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf.
U1
U2
U3
U4
U5
U6 0,9659
0,7071
0,7071
0,7071
0,8365
0,7071 1,0550 b
1,3138 b
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a 1,6369 b
1,0550 b
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a 1,4754 b
1,2569 b
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a 1,4920 b
1,1441 b
0,7071 a
0,7071 a
0,8365 b
0,7071 a 1,1844 b
0,9659 b
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a 1,2569 b
1,1844 b
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a
0,7071 a 1,1844 b
1,0550 b
0,7071 a
0,8365 b
0,7071 a
0,7071 a 1,3626 b
0,9256 b
0,7071 a
0,8365 b
0,7071 a
0,7071 a
BNT – 0,296 0,297 0,42 0,42 0,31 0,40 0,39 0,51
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05.

Tabel 3. Rata-rata jumlah tikus yang terperangkap (Transformasi )

Perla. 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf. Transf.
U1
U2
U3
U4
U5
U6 1,5207 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,5207 b
1,5207 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 2,0414 b
1,2603 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 2,0414 b
1,5207 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,7810 b
1,5207 b
1,0000 a
1,0000 a
1,2603 b
1,0000 a 1,5207 b
1,5207 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,2603 b
1,7810 b
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a
1,0000 a 1,7810 b
1,2603 b
1,0000 a
1,2603 b
1,0000 a
1,0000 a 1,7810
1,2603
1,0000
1,2603
1,0000
1,0000
BNT 0,43 0,54 0,37 0,43 0,66 0,54 0,51 0,56 –
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom dan baris yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05.

SIMPULAN DAN SARAN

Perbedaan struktur dan jenis umpan terhadap keterpilihan tikus pada umumnya menunjukkan perbedaan diantara perlakuan. Namun pada rentang pengamatan, ada yang tidak berbeda. Umpan yang lebih disukai oleh tikus adalah umpan padi/gabah dibandingkan dengan umpan beras utuh, beras pecah, jagung utuh, jagung pecah dan tepung jagung. Persentase kerusakan tanaman padi tertinggi ditemui pada saat umur padi telah siap untuk di panen, pada saat ini tikus cenderung lebih menyukai padi dari pada umpan yang ada di dalam perangkap. Rasio tikus yang banyak terperangkap adalah tikus yang berkelamin jantan.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan yaitu dengan menambahkan rodentisida pada umpan yang kita letakkan atau dengan menggunakan gadung racun yang dapat menyebabkan tikus mandul.

DAFTAR PUSTAKA

AAK, 1990. Budidaya tanaman padi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Arifin, K. 1995. Beberapa langkah usaha dalam pencegahan dan pengendalian hama tikus, Balai Informasi Pertanian. Bandung.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. 2007. Laporan tahun 2006. Pertanian untuk kesejahteraan petani. (diakses 1 Agustus 2007).
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten, Jl. Ciptayasa KM 01 Ciruas, Serang, Banten 42182 Telp. (0254) 281055 Fax. (0254) 282507. Email : bptp-banten@litbang.deptan.go.id Website : http://banten.litbang.deptan.go.id. (diakses 16 Januari 2008).
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah, Email : bptp-jateng@litbang.deptan.go.id Website http://jateng.litbang.deptan.go.id. (diakses 17 Februari 2008).
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nanggroe Aceh Darussalam. Teknik pengendalian hama tikus: PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu). Email : bptp-nad@litbang.deptan.go.id Website http://bptpnad.litbang.deptan.go.id. (diakses 17 Februari 2007).
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Utara. Masalah Lapang Hama dan Penyakit Hara Pada Padi. Email : bptp-sumut@litbang.deptan.go.id Website http://sumut.litbang.deptan.go.id. (diakses 17 Februari 2007).
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2008. Home Blog Photos Video Reviews Links, Multiply, Inc. About-Blog. Terms. Privacy. Corp Info.Contact Us. Help. Departemen Pertanian. Jakarta. (diakses 26 Februari 2008).
Gomez, A. A. & Gomez, A. K. 1995. Prosedur statistik untuk penelitian pertanian. Edisi kedua. Penerjemah: Endang Sjamsuddin & Justika S. Baharsjah. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Hadrian, S. 1987. Budidaya tanaman padi di Indonesia. PT Sastra Budaya. Bogor.
Harahap, I. S. & B. Tjahjono. 1989. Pengendalian hama dan penyakit padi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Heyne, K. 1987. Tumbuhan berguna di Indonesia. Jilid I. Terjemahan: Badan Litbang Kehutanan. Jakarta.
Jumanta, Sudarmaji, & Rohman. 1997. Pengendalian populasi tikus sawah dengan teknik pagar perangkap bubu. Posiding III Lanjutan Seminar Nasional Biologi XV. Balai Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi.
Jumar & Helda, O. R. 2003. Efikasi beberapa tingkat dosis larutan akar tegari (Dianella sp.) terhadap mortalitas tikus sawah (Rattus argentiventer). Agrosscientiae. 10 :107- 113.
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000. Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340 Tlp. 021 316 9166-69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id. (diakses 25 Februari 2008).
Kardinan, A. 1997. Potensi kunyit, kecubung, gadung, dan senggugu sebagai bahan rodentisida nabati. Jurnal Penelitian Tanaman Industri. 5: 31-36.
Marshal, 2000. Pedoman pengendalian tikus khusus di rumah sakit. Jurnal Pengenalan tikus dan ektoparasitnya. P: 4-6. UGM Press. Yogyakarta.
Manurung, S. O. & M. Ismunadji, 1998. Morfologi dan fisiologi padi dalam padi Buku I. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Institute Pertanian Bogor. Bogor.
Martin, G, J. M., Sianturi & Y Tarigan. 1990. Vertebrata pest management course. Proyek Pengembangan Tanaman Perkebunan Bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Perkebunan Medan.
Murakami, O., J. Priyono, & Harsiwi Triyastini. 1990. Population management of the rice field rat in Indonesia. In: Quick, G.R. (Eds.). Rodent and Rice. IRRI. Los Banos. Philippines.
National Agricultural. 2000. Crops county data [Online]. Available at http://www.e-paper.unair.ac.id/entryfile/Prokarimah%20Mia.pdf (diakses 7 Juni 2008).
Priyambodo, S. 1995. Pengendalian hama tikus terpadu. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rachman, L. O. 2007. http://www.unila.ac.id/ Powered by Mambo Open Source. Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung. (diakses 10 Juni 2008).
Rochman. 1992. Biologi dan ekologi tikus sawah sebagai dasar pengendalian hama tikus terpadu: Cisarua, 17-18 Juni 1992. Program nasional pengendalian hama terpadu. Badan perencanaan pembangunan nasional. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rochman, D. Sukarna, & Suwalan. 1999. Pola perkembangbiakan tikus sawah (Rattus argentiventer) pada berbagai daerah berpola tanam padi-padi di Subang. Penelitian pertanian 2: 77-80.
Sianturi, J. M. 1990. Pengendalian tikus pada tebu di Cirebon, Propinsi Jawa Barat. Laboratorium Pengendalian Vertebrata Hama. Medan.
Sudarmaji, 2007. Pengendalian hama tikus terpadu untuk mendukung P2BN (Pningkatan produksi beras nasional). Direktorat perlindungan tanaman. Direktorat jenderal tanaman pangan. Jakarta.
Thamrin, M., Heru Sutikno, & S. Asikin. 2001. Pengendalian hama tikus terpadu di Lahan Pasang Surut. Buletin Teknik. Departemen Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Tanaman Pangan Lahan Rawa. Banjarbaru.
Thamrin, M., S. Asikin, & Tuti Hieriyani. 1998. Perkembangan Tikus Sawah (Rattus argentiventer) di lahan pasang surut. Kalimantan Agrikultura. 5: 1-4.
Theceli, 1992. UU.12 Tahun 1992. Sistem budidaya tanaman padi. http://www.Theceli.Com/dokumen/produk/1992/UU12. 1992. htm-44 k. (diakses 17 Maret 2008).
Tobing, M. P. L. & W. Sianturi. 1982. Bercocok tanam tanaman padi. Departemen Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Medan.
Tristianti, H. J. Priyono, & O. Murahami. 1992. Hubungan antara kepadatan populasi tikus dan kerusakan yang diakibatkannya di lahan berpagar, Laporan akhir kerja sama teknis Indonesia-Jepang. Direktorat perlindungan tanaman. Direktorat jenderal tanaman pangan. Jakarta.
Yulianto, Dwiyana E. & Hartono, 2007. Teknologi pengendalian tikus sawah secara terpadu, http://jateng.litbang.deptan.go.id. (diakses 10 Juni 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: